Melihat langit tidak lagi berwarna biru, mata ini ingin selalu terpejam, karena dalam gelap ada kedamaian dan diantara kedamaian ada banyak harapan. Aku yang tidak mengandalkan keperpihakan akan terjebak dalam ruang-ruang kosong hanya karena kabisuan nalar. Persetan dengan ucapan mereka yang selalu berdiplomasi memainkan bahasa untuk menghilangkan makna. Sialan dengan karakter feminis yang tidak mampu menjadi orang jujur dan bernalar.
Memang dunia ini tidak layak lagi menjadi tempat manusia, namun agaknya terlalu berlebihan untuk memanjakan binatang seperti mereka. Lagi-lagi istilah metafora yang menipu layaknya fatamorgana, bukan sekedar ketertinggalan mekanisme dan konfrontasi akal. Sedangkan refleksi kritis tidak begitu terlibat dalam dinamika sosial. Sudah cukup lama permainan itu tidak kumainkan, begitu juga persepsi logis yang sama sekali tidak kuharapkan. Entah seberapa kejam perlakuan ku pada jiwa yang kering ini, tentunya aku akan selalu berharap suatu saat waktu akan menolongku, dan memberikanku peluang untuk menikmati dusta duniawi, bukan dusta itu sendiri melainkan kejujuran yang tertunda, diantara isak tangis keterpaksaan.
Sebenarnya keanehan yang dipersepsikan buruk oleh kebanyakan manusia ternyata membawa kebenaran yang substansial, penuh esensi dan hikmah, tapi mengapa para pecundang dan penghianat itu mengatasnamakan budaya sebagai aturan hukum untuk menjustifikasi salah-benar, sungguh tidak rasional. Budaya adalah kebiasaan bagi mereka, kebiasaan untuk melakukan hal-hal bodoh yang membuat mereka gila, yang tanpa sadar tidak memberikan peluang buat menyadarkan eksistensi diri namun malah realitas itu dirubah menjadi bayangan.
Perbuatan tersebut adalah terkutuk dan alangkah naifnya telah mengakar menjadi paradoks, suatu penilaian yang terbalik atas kesimpulan yang benar. Sangat disayangkan dusta ideologis telah mencengkeram nalar intelektualnya, bersama bayangan mistik demokrasi yang entah siapa yang mendefinisikan secara tekstual, sungguh luar biasa kebiadaban itu. Terlepas dari misi intelektualisasi kader, realitas menjadi apologi terbaik dalam melakukan pelarian diri dari tanggung jawab, yang secara moral sudah tidak layak untuk diwacanakan.
Tidak penting kiranya menjawab pertanyaan busuk tentang apa dan siapa penyebab stagnasi ini, namun bagaimana kemudian penyadaran jiwa atas nilai-nilai luhur itu yang harus kita definisikan untuk memberikan pemahaman, bukan sekedar normatifitas. Kerap kali konflik personal mengikat langkah kita persis seperti monyet yang terpasung lehernya. Menarik memang ketika kita sudah berhasil menciptakan sejarah, namun sangat tidak benar jika sejarah tersebut malah mendasari konflik yang berkepanjangan. Setelah aksiden reaksioner telah terjadi biasanya baru menyentuh kesadaran bawah nalar kita, namun tentunya hanya nampak sekilas lalu hilang.
Ketika nalar ini telah terpenuhi sesuatu yang ideal dan sebaliknya dengan indera kita menyaksikan ketimpangan yang berbeda dengan idealitas tersebut maka seluruh kemampuan kita berusaha untuk dikerahkan dalam rangka merespon kondisi tersebut, inilah namanya kepedulian. Tanggapan dari nenek moyang kita terlanjur membudaya untuk kita yakini, lebih jauh lagi pemakaian insting yang kurang tepat akan lebih membahayakan bagi kepentingan yang sebenarnya, inilah hasil dari kesesatan mitos. Terlalu kolot lingkungan kita menghembuskan angin mistik yang begitu menyesakkan potensi nalar kita, setidaknya benih-benih kecenderungan rasio kita sirami dengan rangsangan-rangsangan kebebasan dan selebihnya kita biarkan afektifitas merefleksikannya.
Terlalu tua setua usia bumi ini nalar berpikir nenek moyang kita untuk mengomentari realitas hari ini, dan mereka terlalu rapuh untuk menganalisis fenomena masyarakat, apalagi mereka berambisi untuk mengulangi romantisme sejarah masa lalu, sungguh ironis. Bukan berarti kesempatan saat ini terlepas dari belenggu sejarah, namun alangkah bijaksananya jika ketepatan antara metode dan fenomena lebih kita kedepankan. Pembohongan publik atas dasar keinginan untuk mencari kemenangan, keuntungan dan keberhasilan individu atau golongan tertentu adalah perbuatan keji meski dilapisi dengan hal-hal normatif-nisbi. Kalau kita kritis tentu akan tampak jelas bahwa bayangan realitas adalah terbentuk dari adanya cahaya yang menyinarinya. Realitas ataupun bayangannya sekali lagi tidak lebih sekedar dusta, tipuan dan sihir yang menghipnotis alam bawah sadar kita. (beng2, 2003)




















