Saya pikir tingkat kecerdasan seseorang bisa diukur berdasarkan ketajaman analisis dan kemampuan membaca realitas. Secara metodis, banyak sistematika yang jelas untuk memetakan kenyataan yang tampak dalam kasat mata. Mana realitas yang benar dan mana yang salah, mana yang nisbi dan mana yang hakiki. Tidak ada jaminan yang kelihatan itu semuanya benar adanya, secara analitik kebenaran yang sebenarnya adalah tidak sama dengan realitas atau kejadian yang sebenarnya.
Mustahil kalau tiap kejadian itu hanya proses kebetulan belaka, Artinya dalam tataran teknis belum dapat kita maknai itu adalah sebuah kenyataan yang benar, namun harus berdasarkan analisis dan data-data konkrit untuk hanya menemukan setidaknya kebenaran masa kini. Hal itu dapat dikualifikasi berdasarkan tingkat kedalaman analisis, tanpa analisis kita tidak tahu arti dari fenomena dan hanya terlihat kulitnya saja, yang jelas dibalik itu ada banyak tuhan-tuhan baru yang mencoba mengkonstruk situasi dan kondisi seperti yang diharapkan mereka. jadi harus kita bongkar permukaan realitas dengan kesadaran sepenuhnya dan bukan sekedar menikmati seonggok sampah tuhan-tuhan baru tersebut.
terbentuknya realitas empiris tidak pernah terlepas dari konstruk rekayasa hasil buah pikiran manusia, tanpa kita tahu kesadaran mayoritas telah dipermainkan dengan banyaknya metafora bahasa dan potret fatamorgana. Terlepas dari semua itu budaya ketergantungan sikap untuk segera merespon kondisi riil akan menjebak pikiran kita menuju pragmatisme nalar. Mau tidak mau perasaanpun akan terlibat dalam menarik sebuah kesimpulan yang kemudian menjadi dasar untuk menentukan keputusan. Kesalahan proses pemaknaan itu berimplikasi pada terjadinya konflik dan sebagai sumber munculnya fenomena sosial.
Setiap manusia pasti mempunyai asumsi-asumsi terkait dengan adanya suatu fenomena, namun parahnya secara mayoritas banyak yang terlalu tergesa-gesa untuk menilai fenomena tersebut sehingga muncul banyak persepsi salah dan kemudian menjadi budaya sekaligus ukuran kebenaran. Situasi seperti ini akan dimanfaatkan betul oleh mereka-mereka yang mempunyai legitimasi kuasa untuk menentukan kebijakan yang bersifat normatif, mekanis dan kausalistik yang dikemas dalam suatu yang praktis agar dapat dipersepsikan secara tekstual, tidak holistik dan kritis analitik.
Pengaruh paradigma positivis deterministik telah mendominasi sebagian besar kerangka berpikir masyarakat yang tentunya tanpa sedikitpun refleksi mereka telah merasa menemukan apa yang mereka cari, yaitu kesesatan. Kesempatan untuk mencari dinamika dan keteraturan hidup lebih ditekan oleh keinginan untuk menguasai yang bersifat eksploitatif. Akar dari kesalahpahaman terhadap persepsi kritis telah menjamur sehingga kenyataan berubah menjadi bayang-bayang yang tiap malam lenyap tiada bentuk. Pernah ketika seorang teman kita mengerang kesakitan dan selalu memegang perutnya, kita mengira dia mulas atau magh dan dokterpun mengatakan begitu namun sayangnya teman kita itu telah lama menahan sakit di kemaluannya sehingga perutnya tak kuasa menahan sakit yang begitu keras.
Analogi lain adalah tatkala gedung beserta kantor seorang pengusaha terbakar tanpa jelas penyebabnya yang dianggap kecelakaan oleh masyarakat dan juga polisi ternyata kebakaran tersebut memang telah disengaja oleh sang pengusaha karena kondisi usahanya terancam bangkrut yang dengan membakar gedungnya sendiri dia akan mendapatkan asuransi dan minimal dia akan mendapat ganti rugi lebih untuk menutupi kebangkrutannya. Sungguh mudah melakukan manipulasi pembohongan publik yang tidak terlalu anarkis tetapi mengerikan, dan parahnya dia tidak hanya menganggap hal itu baik, namun benar.
Sebagaimana posisi dosen yang seolah sok idealis dengan gayanya yang elitis, memaksa mahasiswa untuk mengakui kecerdasannya dan dengan kuasa posisinya dia mengharapkan wibawa, kemudian dia menikmati pujian dari sekelilingnya, padahal untuk menutupi kebodohannya dia mengajarkan wawasan yang sempit dan berbelit-belit untuk berusaha membingungkan mahasiswa, tanpa penuh resiko dia membebani banyak tugas-tugas konyol tanpa pertimbangan profesional sehingga tampak usahanya untuk mencerdaskan menjadi penjebak karakter ke arah ketololan mahasiswa, imbas dari hal tersebut adalah terbentuknya sarjana mekanik, mandul intelektual, dan tidak produktif. Dosa besar bagi mereka, sang dosen pengecut, kalau seandainya aktor-aktor yang bermain dalam tataran akademik tersebut berperan sebagai pembawa doktrin “aneh” yang memberikan karakter tunduk dan patuh, bukan kesempatan untuk kreatif dan mandiri.
Dengan adanya kenyataan-kenyataan semu, tidak tampak sebuah titik singgung atau lebih tepatnya keselarasan antara kejadian yang tampak dengan kenyataan yang sebenarnya. Sebenarnya tidak semua realitas tersembunyi dari maknanya, namun sudah begitu banyak metodologi untuk menganalisis fenomena yang terjadi. Bahasa sebagai pengantar eksplisit telah banyak berperan dalam menampakkan bentuk realitas, biasanya bahasalah yang benar-benar menjadi alat untuk mendefinisikan, namun tidak untuk memaknai. Peran bahasa menjadi kabur oleh imajinasi intelektual dan inilah senjata ampuh untuk membiaskan substansi.
Bahasa layaknya sinar matahari yang menjadikan fatamorgana dan sebaliknya bahasa bukan sebagai prisma yang mampu menerjemahkan cahaya putih matahari menjadi warna-warni pelangi. Apakah masih layak bahasa dijadikan satu-satunya alat untuk memberikan makna, saya pikir ini adalah bentuk paradoks yang harus segera dibongkar, makna adalah abstrak sementara bahasa adalah pereduksi. Posisi bahasa lebih tepat saya artikan sebagai alat kuasa, berperan secara simbolik dan penuh keberpihakan.
Berdasarkan realitas, seseorang melakukan bentuk penilaian-penilaian subjektif dan tentunya secara metodologis akan berabstraksi dengan teori-teori yang sesuai, dari hasil penalaran subjektif tersebut abstraksi semakin jauh dari realitas dan berimplikasi pada disfungsinya konsep terhadap fenomena yang ada, akhirnya teori-teori tinggallah kalimat tak berharga dan jatuh dari kebermaknaan.





















Maret 29th, 2009 at 11:37
salam kenal nih . ada yang mau saya tanyakan :
menurut anda fenomena sosial apa aja yang dapat mempengaruhi studi mahasiswa . ( tolong jelaskan and kalau bisa balas juga ke email saya ) maaf merepotkan .
Terimaksih atas bantuannya .