Sebagai kader pmii tentunya aku merasakan betul degradasi semangat dari komponen2 pmii, secara pribadi tentunya saya sangat kecewa terkait dengan orientasi masa depan dan cita-2 pribadi saya yang tidak sesuai dengan peran saya distruktur organisasi, namun tuntutan organisasi secara kelembagaan ini tidak saya sikapi secara egois, hal itu adalah bukti kerelaan saya menjadi sosok yang peduli pada nasib internal pmii dalam lingkup yang bisa saya perankan, tidak lebih.
Bukan masalah besar ketika mekanisme struktural telah menjebak banyak korban, yaitu kader2 pragmatis. Pmii yang dengan kekuatan kulturalnya seharusnya mampu memberikan nilai2 idealisme dan tenaga militansi yang massif namun ternyata ideology tersebut Cuma menjadi apologi terkutuk untuk mencoba menenggelamkan ruh-ruh perjuangan itu sendiri. Sementara aset2 intelektual pmii sedikit demi sedikit tergeser menjadi onggokan sampah yang tidak berharga.
Memang dengan sedikitnya analisis kita sudah berani mengambil kesimpulan, inilah bukti bahwa realitas ontologis kita sudah cacat nalar. Media otokritik kurang kondusif untuk mengevaluasi kinerja dan pemahaman konflik demi terciptanya solusi yang sehat, forum2 koordinasi menjadi minim kepercayaan dan sudah tidak bisa diandalkan lagi untuk membentuk pola gerakan yang ideal. Konstruksi pragmatisme masal sekaligus budaya hedonisme telah menjadi pemeran penting dalam radikalisme berpikir. Suatu kapitalisme yang dibungkus ideologi praktis kita adalah orientasi pengkaderan pmii, ironis.
Bagaimana bisa kita berperan sebagai organ gerakan yang konstruktif sementara keterputusan aktor2 sejarah kita tidak secara komunikatif terjalin dengan baik, disorientasi. Seandainya kader2 kultural ini paham akan mekanisme organisasi dan setidaknya mau mendengar naluri kepeduliannya, maka mandulnya kaderisasi ini tidak akan terjadi, mustahil.
Berangkat dari hilangnya nalar dialektis berganti dengan kecurigaan2 dan pengaruh politis lainnya, pmii kehilangan jati diri dan identitasnya, bodoh. Kesalahan fatal kita dalam menyikapi dan memahami budaya kaderisasi berimbas pada Munculnya pecundang2 baru dan aktor2 karbitan yang menyebabkan konflik horizontal sebagai sumber perpecahan, gerakan sporadik. Karakter struktural sebenarnya bukanlah isu strategis untuk mengembalikan citra diri pmii sesungguhnya, karena pada dasarnya pmii tidak berorientasi struktur namun itu bukan berarti kita harus berpaling pada tatanan administrasi, apakah harus kita tinggalkan amburadulnya management administrasi, 3 / 4 tahun kedepan kita akan habis oleh arus globalisasi dan kapitalisasi nasional.
Benar adanya bahwa sumber daya yang saat ini masih bisa kita andalkan adalah puing2 idealisme beberapa orang kader untuk setidaknya ikut berperan membangun intelektualisasi yang berorientasi militansi kader, bukan mekanisasi peran. Beberapa target substansial harus kita pahami dan maknai ulang untuk kemudian kita melakukan proses kaderisasi secara internal, memang harus kita akui bahwasannya sulitnya untuk menyamakan persepsi logis budaya struktural yang mirip botol lampu minyak, ini bahkan sekarang menjadi lilin kecil yang kian hari kehabisan energi untuk menerangi kerangka berpikir organisasi. Tidak ada penyeragaman berpikir namun penyamaan ideologi dan pemahaman bahwa pmii bukan sekedar organisasi yang pernah kita ikuti, namun pmii harus kita posisikan sebagai sebuah tanggung jawab yang dalam situasi dan kondisi apapun kita harus rela memperjuangkannya, bukan menghindarinya.
Lari dari tuntutan organisasi yang sekarang ini menjadi realitas namun bukan isu yang menarik, biasanya kita sikapi dengan wajar2 saja. Kita jarang merefleksikan kenapa mereka rela mempecundangi baiat atas nama Tuhan, sadarkah kita kalau hal tersebut adalah bentuk penghianatan terhadap amanat tuhan??. Sampai kini arogansi gerakan tidak diimbangi dengan kedalaman intelektual, namun sekedar profesionalisme preman. Sikap kader yang humanis semakin tidak jelas sejelas kaburnya idealisme. Sayang sekali produksi wacana kini mengalami degradasi seiring biasnya karakter kritis kader yang berimbas pada stagnasi pergerakan yang sesungguhnya.
Normatifitas yang jadi tolok ukur kebenaran cenderung statis dan tidak fleksibel sehingga terkonstruk dogma yang tekstual dan sulit untuk melakukan analisis kebenaran secara substantif. Dekadensi, atau lebih tepatnya kemerosotan baik dalam wilayah keintelektualan maupun perilaku sering memicu munculnya wacana “terjebak” pada “setting” orang lain, padahal sudah sangat jelas bahwa kita sudah masuk dalam sistem global dan ini harus kita petakan.
Munculnya setan-setan yang menjebak pada kesesatan konklusi berawal dari terminologi deduktif-logis untuk kemudian menjelaskan secara rasional fenomena kausalistik deterministik tanpa identifikasi kritis analitik. Sengaja atau tidak kekhawatiran dan kegelisahan akan ketidakmapanan ini kemudian bersama-sama ketidak PD-an kita untuk berpikir solutif, menyebabkan solusi-solusi tersebut menjadi masalah dan memaksa kita untuk mempermasalahkan kembali, inkonsistensi.
Perubahan yang diartikan bergerak positif ke arah perbaikan sebagaimana orang tolol yang mengartikan kekerasan sebagai moral negatif, perubahan bagi saya adalah gerakan dari kondisi netral yang ideal ke arah yang lain, begitu juga kekerasan adalah wujud lain dari ketegasan atas dasar keyakinan dan pilihan sikap yang tetap harus diambil. Perubahan makna atas dasar kata telah menyebabkan dekadensi yang luar biasa, seseorang secara individu telah tersesat dan secara niscaya menyesatkan kolektifitas yang lambat laun akan semakin jauh dari idealitas.
beng2 03




















