Categorized | Kata-kata

Tags :

Rakyat rebutan zakat, pejabat rebutan caleg…

Inilah realitas yang terjadi di negeri tercinta, pada senin pagi 15 september 2008, 21 orang meninggal dunia gara-gara berdesak-desakan demi mendapatkan zakat rp 30.000,-

Uang 30 ribu bagi masyarakat kecil sangatlah berharga, bahkan nyawa pun dipertaruhkan. Disinilah sebenarnya realitas masyarakat kita, di probolinggo ribuan orang antri untuk berebut zakat 5kg beras, di daerah-daerah lainnya juga berebut mendapatkan BLT dari pemerintah.

Saat ini rebut-rebutan memang menjadi trend bangsa indonesia, dimana dengan mati-matian masyarakat kecil berebut uang untuk sesuap nasi, namun sebaliknya masyarakat besar berebut kursi caleg pada pemilu 2009.

Masyarakat kecil berebut uang 30ribu buat makan adalah wajar, namun masyarakat berebut kursi caleg adalah kurang wajar, karena seorang anggota legislatif mempunyai tanggung jawab yang besar untuk mengayomi masyarakat kecil apalagi melihat kondisi rakyat yang sudah jelas-jelas terpuruk. 

Lingkaran setan yang terjadi adalah, masyarakat besar berkampanye dengan mengeksploitasi kesengsaraan rakyat, penderitaan ekonomi, ketertindasan pendidikan dan meningkatnya kebodohan dan pengangguran. Potret kemiskinan masyarakat telah dijual oleh oknum-oknum untuk berkampanye, seolah mereka ingin memperbaiki nasib mereka. Namun apa yang terjadi jika mereka terpilih? 

Silahkan lihat sendiri data di baznas, berapa gelintir pemimpin, pejabat dan pengusaha kaya raya di negeri ini yang berzakat maal dari hartanya. Padahal itu adalah hak orang lain, kalau mereka tidak memberikan sebagian harta mereka kepada yang berhak maka di hari pembalasan nanti harta itu pasti akan ditagih dan dipertanggungjawabkan.

Untuk berkampanye menjadi caleg, masyarakat besar berani mengeluarkan duit ratusan juta bahkan milyaran rupiah, nilai yang begitu besar bagi mereka tiada artinya demi mendapatkan kemenangan pemilu. Lihatlah di sana masyarakat sedang sekarat.

Sebenarnya rebutan menjadi pemimpin sangat aneh di negeri yang penuh air mata ini, kalau berebut tanggungjawab itu namanya pemimpin sejati. Apa sih enaknya menjadi anggota DPR, menteri, atau pejabat pemerintahan lainnya. Ambisi kuasa pecundang-pecundang itu tak lebih sekedar nafsu politik yang dengan biadab mencoreng warna putih bendera ini.

Bagi mereka menjadi pemimpin bukan lagi sebagai amanat, namun lebih sebagai roti empuk yang nikmat rasanya. Sisa-sisa darah pahlawan kita hanya tinggal bersama sisa-sisa tangisan anak bangsa, kemiskinan, kebodohan.

Rebutan menjual Agama, Bendera, Harga diri, moral, budaya, hutan, tambang, tanah, kekayaan laut, dan semua mau dijual…. Puas….!!!!

Emosi ini bagiku lebih berarti daripada keputusasaan…

Leave a Reply

  • Popular
  • Comments
  • Tags
  • Subscribe
Advertise Here

Category

Tag Cloud