Untuk seluruh pengunjung web saya ini, dan untuk semua pengunjung dari belahan nusantara, saya hanya ingin mengucapkan “kesabaran adalah segalanya”.
Semoga, hari ini dan esok masih ada cahaya terang untuk bangsa tercinta ini.
Untuk seluruh pengunjung web saya ini, dan untuk semua pengunjung dari belahan nusantara, saya hanya ingin mengucapkan “kesabaran adalah segalanya”.
Semoga, hari ini dan esok masih ada cahaya terang untuk bangsa tercinta ini.
Tiap kali saya lihat televisi, dimana-mana ada acara sinetron yang selalu bikin hati ga enak. Yang ada disinetron indonesia hanyalah cerita monoton, tentang orang rebutan harta dan kekuasaan, tentang akal licik dan iri dengki. Penuh strategi busuk dan kemunafikan. Inilah yang akan mendoktrin dan mendidik bangsa ini.
Sinetron yang mengeksploitasi orang miskin inilah yang dijual, entah karena sutradaranya kekurangan ide atau memang sengaja ingin “mengkonstruk” masyarakat indonesia untuk melihat realitas dan memaknai kehidupaannya layaknya disinetron.
Cerita monoton yang ada disinetron selalu berkutat pada kebodohan orang miskin, kekalahan orang baik dan kekejaman orang jahat. Kapankah tayangan televisi dapat mendidik masyarakat, hanta TV one dan metro TV yang konsisten memberikan pendidikan dan berita bermutu. Para pencari Tuhan juga bagus dan mendidik, tapi sayang cuma setahun sekali.
Mungkin karena liberalisme dan kapitalisme yang merajai sebagai policy maker nya… Sungguh ironis…
Inilah realitas yang terjadi di negeri tercinta, pada senin pagi 15 september 2008, 21 orang meninggal dunia gara-gara berdesak-desakan demi mendapatkan zakat rp 30.000,-
Uang 30 ribu bagi masyarakat kecil sangatlah berharga, bahkan nyawa pun dipertaruhkan. Disinilah sebenarnya realitas masyarakat kita, di probolinggo ribuan orang antri untuk berebut zakat 5kg beras, di daerah-daerah lainnya juga berebut mendapatkan BLT dari pemerintah.
Saat ini rebut-rebutan memang menjadi trend bangsa indonesia, dimana dengan mati-matian masyarakat kecil berebut uang untuk sesuap nasi, namun sebaliknya masyarakat besar berebut kursi caleg pada pemilu 2009.
Masyarakat kecil berebut uang 30ribu buat makan adalah wajar, namun masyarakat berebut kursi caleg adalah kurang wajar, karena seorang anggota legislatif mempunyai tanggung jawab yang besar untuk mengayomi masyarakat kecil apalagi melihat kondisi rakyat yang sudah jelas-jelas terpuruk.
Lingkaran setan yang terjadi adalah, masyarakat besar berkampanye dengan mengeksploitasi kesengsaraan rakyat, penderitaan ekonomi, ketertindasan pendidikan dan meningkatnya kebodohan dan pengangguran. Potret kemiskinan masyarakat telah dijual oleh oknum-oknum untuk berkampanye, seolah mereka ingin memperbaiki nasib mereka. Namun apa yang terjadi jika mereka terpilih?
Silahkan lihat sendiri data di baznas, berapa gelintir pemimpin, pejabat dan pengusaha kaya raya di negeri ini yang berzakat maal dari hartanya. Padahal itu adalah hak orang lain, kalau mereka tidak memberikan sebagian harta mereka kepada yang berhak maka di hari pembalasan nanti harta itu pasti akan ditagih dan dipertanggungjawabkan.
Untuk berkampanye menjadi caleg, masyarakat besar berani mengeluarkan duit ratusan juta bahkan milyaran rupiah, nilai yang begitu besar bagi mereka tiada artinya demi mendapatkan kemenangan pemilu. Lihatlah di sana masyarakat sedang sekarat.
Sebenarnya rebutan menjadi pemimpin sangat aneh di negeri yang penuh air mata ini, kalau berebut tanggungjawab itu namanya pemimpin sejati. Apa sih enaknya menjadi anggota DPR, menteri, atau pejabat pemerintahan lainnya. Ambisi kuasa pecundang-pecundang itu tak lebih sekedar nafsu politik yang dengan biadab mencoreng warna putih bendera ini.
Bagi mereka menjadi pemimpin bukan lagi sebagai amanat, namun lebih sebagai roti empuk yang nikmat rasanya. Sisa-sisa darah pahlawan kita hanya tinggal bersama sisa-sisa tangisan anak bangsa, kemiskinan, kebodohan.
Rebutan menjual Agama, Bendera, Harga diri, moral, budaya, hutan, tambang, tanah, kekayaan laut, dan semua mau dijual…. Puas….!!!!
Emosi ini bagiku lebih berarti daripada keputusasaan…
Bagi anda pengguna kartu cellular, tentu tidak asing mendengar suara merdu dari operator ini. Pada waktu tulisan ini diposting, itulah yang terjadi padaku, saya berusaha telpon ke sesama xxxxx, tak satupun yang nyambung, berulang kali sampai bateri low. Yang membuat ku heran kenapa pesan errornya kok gitu. Pesan error kan menunjukkan alasannya. seperti :
- Maaf, pulsa anda tidak cukup untuk melakukan panggilan
- Network busy
- Maaf, nomor yang anda hubungi sedang sibuk, silahkan tunggu atau tutuplah telepon anda
- dll
kalau peringatan errornya Nomor yang anda tuju tidak terdaftar, mohon periksa kembali kan aneh, belum lagi kalo udah masuk tahu-tahu belum bicara semenit udah putus sendiri, dilayar handphone ada tulisan network busy, kadang-kadang salah koneksi, dan pesan error lain. Ada apa gerangan bisnis celular ini.
Temen, sodara, tetangga juga mengalami hal serupa, pertanyaannya obral tarif murah itu hanya sekedar promosi atau memang beneran. Jika memang niat memberikan keringanan tarif murah ya jangan setengah-setengah, kesalahan dalam memberikan respon error tersebut sudah bisa ditebak kalau error message tersebut di buat random atau dalam tanda petik “disengaja”.
Lebih baik mahal dan ngomong apa adanya, daripada beriklan murah tapi ga bisa dipakai. Inilah cermin bisnis operator cellular kita.
Perihnya masih terasa sakitnya tak terhingga
Nafsu ingin berkuasa sungguh mahal ongkosnya
Apapun yang akan terjadi aku tak akan lari
Apalagi bersembunyi takkan pernah terjadi
Air mata darah telah tumpah
Demi ambisi membangun negeri
Kalaulah ini pengorbanan
Tentu bukan milik segelintir orang
Belum cukupkah semua ini
Apakah tidak berarti lihatlah wajah ibu pertiwi
Pucat letih dan sedihnya berkarat
Berdoa terus berdoa
Hingga mulutnya berbusa-busa
Ludahnya muncrat saking kecewa
Ibu pertiwi hilang tawanya tak percaya masih ada cinta
Seluruh hidupku jadi siaga
Pagar berduri kutancapkan di hati
Untukmu negeri – yang telah memberi arti
Untukmu negeri – yang telah melukai ibu kami
Untukmu negeri – yang telah merampas anak kami
Untukmu negeri – yang telah memperkosa saudara kami
Untukmu negeri – waspadalah untukmu negeri – bangkitlah
Untukmu negeri – bersatulah
Untukmu negeri – sejahteralah
Kamu negeriku sejahteralah kamu
Perihnya masih terasa
Sakitnya tak terhingga
Sekian lama ingin kuungkapkan bahwa keadaan kita sudah lama rapuh dan disinggahi orang-orang yang rapuh pula. Miskin semangat dan idealisme namun kuat dalam nafsu kuasa. Realitas yang menurutku perlu penyelesaian bersama dengan bijaksana yang dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada tuhan dan seluruh kader, kini kita telah terpecah belah dalam lingkaran emosional yang sarat akan kepentingan pragmatis. Kita tidak pernah sadar bahwa apapun yang kita lakukan akan berimplikasi pada nasib kaderisasi ke depan. Mekanisme cultural yang terbangun ternyata dikomunikasikan secara politis oleh elit-elit intelektual yang sok jagoan namun tak bertanggungjawab.
Kusadar betul bahwa sebenarnya kita telah terlibat dalam konflik yang sedang hangat ini, namun nalar busuk kita mencoba mengarahkan pada tindakan yang dekonstruktif, cari pengaruh, sekedar untuk meraup kekuasaan dan yang lain ingin cuci tangan. Logika politik kita ditunggangi nafsu dan ambisi kuasa. Lihatlah.. kader2 yang idealis pasti kecewa, Semuanya dusta, penuh retorika, dan jauh dari asa. Tak ada yang benar, semuanya salah dan harus mau disalahkan. Namun siapa yang hari ini terbuka untuk dikritik, mau mengakui kesalahan dan kelemahannya. Elit-elit organisasi ini kebanyakan menjadi pengecut yang lari dari kenyataan, menjadi pecundang yang hanya memanfaatkan lalu cuci tangan, dan selebihnya menjadi pengekor yang bodoh dan mudah termakan claim dan isu.
Sudah saatnya kita rekontruksi bangunan cultural kita yang sekarang amburadul karena terfragmentasi politisasi pecundang2 itu, buktikan bahwa kita sebagai kader yang punya prinsip kokoh dalam idealisme. Biarlah mereka2 yang membawa kepentingan pribadi berkoar-koar meneriakkan claim, menyebar isu saling menjatuhkan, berperilaku politis sampai pada perlakuan mempengaruhi kader2 arogan yang reaksioner yang mudah disetir.
Bersama dengan kotornya dunia yang terlihat didepanku, para buaya, tikus-tikus, dan orang-orang oportunis berkumpul untuk menyatukan pendapat, menggalang kekuatan dan melakukan proses destruktif atau penghancuran. Terjadi dekadensi dan degradasi pada nilai-nilai yang selama ini dijunjung tinggi. Dalam cara pandang subjektif, saya tidak melihat seseorang dari tubuh fisiknya, dari penampilannya, dari jabatannya, namun saya melihat nalar berpikirnya yang dialektis, jiwanya yang humanis, dan perilaku yang normative.
Hidup adalah kenyataan pahit yang tidak jelas warna dan bentuknya, pengalaman hidup memberikan warna, rasa sakit memberikan bentuk, dan berjuta kepedihan memberi makna, beginilah cara saya memahami arti hidup. Saya butuh kecewa untuk mengumpat, saya butuh kesedihan untuk seulas senyum, saya butuh sakit untuk mendapatkan kebanggaan. Sungguh saya adalah altruis yang fatalistic, kenyataan saya tidak pernah bertanya tentang keinginan dan cara menggapai cita-cita, saya tidak diajari menjadi manusia yang baik.
Sebagai kader pmii tentunya aku merasakan betul degradasi semangat dari komponen2 pmii, secara pribadi tentunya saya sangat kecewa terkait dengan orientasi masa depan dan cita-2 pribadi saya yang tidak sesuai dengan peran saya distruktur organisasi, namun tuntutan organisasi secara kelembagaan ini tidak saya sikapi secara egois, hal itu adalah bukti kerelaan saya menjadi sosok yang peduli pada nasib internal pmii dalam lingkup yang bisa saya perankan, tidak lebih.
Bukan masalah besar ketika mekanisme struktural telah menjebak banyak korban, yaitu kader2 pragmatis. Pmii yang dengan kekuatan kulturalnya seharusnya mampu memberikan nilai2 idealisme dan tenaga militansi yang massif namun ternyata ideology tersebut Cuma menjadi apologi terkutuk untuk mencoba menenggelamkan ruh-ruh perjuangan itu sendiri. Sementara aset2 intelektual pmii sedikit demi sedikit tergeser menjadi onggokan sampah yang tidak berharga.
Memang dengan sedikitnya analisis kita sudah berani mengambil kesimpulan, inilah bukti bahwa realitas ontologis kita sudah cacat nalar. Media otokritik kurang kondusif untuk mengevaluasi kinerja dan pemahaman konflik demi terciptanya solusi yang sehat, forum2 koordinasi menjadi minim kepercayaan dan sudah tidak bisa diandalkan lagi untuk membentuk pola gerakan yang ideal. Konstruksi pragmatisme masal sekaligus budaya hedonisme telah menjadi pemeran penting dalam radikalisme berpikir. Suatu kapitalisme yang dibungkus ideologi praktis kita adalah orientasi pengkaderan pmii, ironis.
Bagaimana bisa kita berperan sebagai organ gerakan yang konstruktif sementara keterputusan aktor2 sejarah kita tidak secara komunikatif terjalin dengan baik, disorientasi. Seandainya kader2 kultural ini paham akan mekanisme organisasi dan setidaknya mau mendengar naluri kepeduliannya, maka mandulnya kaderisasi ini tidak akan terjadi, mustahil.
Berangkat dari hilangnya nalar dialektis berganti dengan kecurigaan2 dan pengaruh politis lainnya, pmii kehilangan jati diri dan identitasnya, bodoh. Kesalahan fatal kita dalam menyikapi dan memahami budaya kaderisasi berimbas pada Munculnya pecundang2 baru dan aktor2 karbitan yang menyebabkan konflik horizontal sebagai sumber perpecahan, gerakan sporadik. Karakter struktural sebenarnya bukanlah isu strategis untuk mengembalikan citra diri pmii sesungguhnya, karena pada dasarnya pmii tidak berorientasi struktur namun itu bukan berarti kita harus berpaling pada tatanan administrasi, apakah harus kita tinggalkan amburadulnya management administrasi, 3 / 4 tahun kedepan kita akan habis oleh arus globalisasi dan kapitalisasi nasional.
Benar adanya bahwa sumber daya yang saat ini masih bisa kita andalkan adalah puing2 idealisme beberapa orang kader untuk setidaknya ikut berperan membangun intelektualisasi yang berorientasi militansi kader, bukan mekanisasi peran. Beberapa target substansial harus kita pahami dan maknai ulang untuk kemudian kita melakukan proses kaderisasi secara internal, memang harus kita akui bahwasannya sulitnya untuk menyamakan persepsi logis budaya struktural yang mirip botol lampu minyak, ini bahkan sekarang menjadi lilin kecil yang kian hari kehabisan energi untuk menerangi kerangka berpikir organisasi. Tidak ada penyeragaman berpikir namun penyamaan ideologi dan pemahaman bahwa pmii bukan sekedar organisasi yang pernah kita ikuti, namun pmii harus kita posisikan sebagai sebuah tanggung jawab yang dalam situasi dan kondisi apapun kita harus rela memperjuangkannya, bukan menghindarinya.
Lari dari tuntutan organisasi yang sekarang ini menjadi realitas namun bukan isu yang menarik, biasanya kita sikapi dengan wajar2 saja. Kita jarang merefleksikan kenapa mereka rela mempecundangi baiat atas nama Tuhan, sadarkah kita kalau hal tersebut adalah bentuk penghianatan terhadap amanat tuhan??. Sampai kini arogansi gerakan tidak diimbangi dengan kedalaman intelektual, namun sekedar profesionalisme preman. Sikap kader yang humanis semakin tidak jelas sejelas kaburnya idealisme. Sayang sekali produksi wacana kini mengalami degradasi seiring biasnya karakter kritis kader yang berimbas pada stagnasi pergerakan yang sesungguhnya.
Normatifitas yang jadi tolok ukur kebenaran cenderung statis dan tidak fleksibel sehingga terkonstruk dogma yang tekstual dan sulit untuk melakukan analisis kebenaran secara substantif. Dekadensi, atau lebih tepatnya kemerosotan baik dalam wilayah keintelektualan maupun perilaku sering memicu munculnya wacana “terjebak” pada “setting” orang lain, padahal sudah sangat jelas bahwa kita sudah masuk dalam sistem global dan ini harus kita petakan.
Munculnya setan-setan yang menjebak pada kesesatan konklusi berawal dari terminologi deduktif-logis untuk kemudian menjelaskan secara rasional fenomena kausalistik deterministik tanpa identifikasi kritis analitik. Sengaja atau tidak kekhawatiran dan kegelisahan akan ketidakmapanan ini kemudian bersama-sama ketidak PD-an kita untuk berpikir solutif, menyebabkan solusi-solusi tersebut menjadi masalah dan memaksa kita untuk mempermasalahkan kembali, inkonsistensi.
Perubahan yang diartikan bergerak positif ke arah perbaikan sebagaimana orang tolol yang mengartikan kekerasan sebagai moral negatif, perubahan bagi saya adalah gerakan dari kondisi netral yang ideal ke arah yang lain, begitu juga kekerasan adalah wujud lain dari ketegasan atas dasar keyakinan dan pilihan sikap yang tetap harus diambil. Perubahan makna atas dasar kata telah menyebabkan dekadensi yang luar biasa, seseorang secara individu telah tersesat dan secara niscaya menyesatkan kolektifitas yang lambat laun akan semakin jauh dari idealitas.
beng2 03
Melihat langit tidak lagi berwarna biru, mata ini ingin selalu terpejam, karena dalam gelap ada kedamaian dan diantara kedamaian ada banyak harapan. Aku yang tidak mengandalkan keperpihakan akan terjebak dalam ruang-ruang kosong hanya karena kabisuan nalar. Persetan dengan ucapan mereka yang selalu berdiplomasi memainkan bahasa untuk menghilangkan makna. Sialan dengan karakter feminis yang tidak mampu menjadi orang jujur dan bernalar.
Memang dunia ini tidak layak lagi menjadi tempat manusia, namun agaknya terlalu berlebihan untuk memanjakan binatang seperti mereka. Lagi-lagi istilah metafora yang menipu layaknya fatamorgana, bukan sekedar ketertinggalan mekanisme dan konfrontasi akal. Sedangkan refleksi kritis tidak begitu terlibat dalam dinamika sosial. Sudah cukup lama permainan itu tidak kumainkan, begitu juga persepsi logis yang sama sekali tidak kuharapkan. Entah seberapa kejam perlakuan ku pada jiwa yang kering ini, tentunya aku akan selalu berharap suatu saat waktu akan menolongku, dan memberikanku peluang untuk menikmati dusta duniawi, bukan dusta itu sendiri melainkan kejujuran yang tertunda, diantara isak tangis keterpaksaan.
Sebenarnya keanehan yang dipersepsikan buruk oleh kebanyakan manusia ternyata membawa kebenaran yang substansial, penuh esensi dan hikmah, tapi mengapa para pecundang dan penghianat itu mengatasnamakan budaya sebagai aturan hukum untuk menjustifikasi salah-benar, sungguh tidak rasional. Budaya adalah kebiasaan bagi mereka, kebiasaan untuk melakukan hal-hal bodoh yang membuat mereka gila, yang tanpa sadar tidak memberikan peluang buat menyadarkan eksistensi diri namun malah realitas itu dirubah menjadi bayangan.
Perbuatan tersebut adalah terkutuk dan alangkah naifnya telah mengakar menjadi paradoks, suatu penilaian yang terbalik atas kesimpulan yang benar. Sangat disayangkan dusta ideologis telah mencengkeram nalar intelektualnya, bersama bayangan mistik demokrasi yang entah siapa yang mendefinisikan secara tekstual, sungguh luar biasa kebiadaban itu. Terlepas dari misi intelektualisasi kader, realitas menjadi apologi terbaik dalam melakukan pelarian diri dari tanggung jawab, yang secara moral sudah tidak layak untuk diwacanakan.
Tidak penting kiranya menjawab pertanyaan busuk tentang apa dan siapa penyebab stagnasi ini, namun bagaimana kemudian penyadaran jiwa atas nilai-nilai luhur itu yang harus kita definisikan untuk memberikan pemahaman, bukan sekedar normatifitas. Kerap kali konflik personal mengikat langkah kita persis seperti monyet yang terpasung lehernya. Menarik memang ketika kita sudah berhasil menciptakan sejarah, namun sangat tidak benar jika sejarah tersebut malah mendasari konflik yang berkepanjangan. Setelah aksiden reaksioner telah terjadi biasanya baru menyentuh kesadaran bawah nalar kita, namun tentunya hanya nampak sekilas lalu hilang.
Ketika nalar ini telah terpenuhi sesuatu yang ideal dan sebaliknya dengan indera kita menyaksikan ketimpangan yang berbeda dengan idealitas tersebut maka seluruh kemampuan kita berusaha untuk dikerahkan dalam rangka merespon kondisi tersebut, inilah namanya kepedulian. Tanggapan dari nenek moyang kita terlanjur membudaya untuk kita yakini, lebih jauh lagi pemakaian insting yang kurang tepat akan lebih membahayakan bagi kepentingan yang sebenarnya, inilah hasil dari kesesatan mitos. Terlalu kolot lingkungan kita menghembuskan angin mistik yang begitu menyesakkan potensi nalar kita, setidaknya benih-benih kecenderungan rasio kita sirami dengan rangsangan-rangsangan kebebasan dan selebihnya kita biarkan afektifitas merefleksikannya.
Terlalu tua setua usia bumi ini nalar berpikir nenek moyang kita untuk mengomentari realitas hari ini, dan mereka terlalu rapuh untuk menganalisis fenomena masyarakat, apalagi mereka berambisi untuk mengulangi romantisme sejarah masa lalu, sungguh ironis. Bukan berarti kesempatan saat ini terlepas dari belenggu sejarah, namun alangkah bijaksananya jika ketepatan antara metode dan fenomena lebih kita kedepankan. Pembohongan publik atas dasar keinginan untuk mencari kemenangan, keuntungan dan keberhasilan individu atau golongan tertentu adalah perbuatan keji meski dilapisi dengan hal-hal normatif-nisbi. Kalau kita kritis tentu akan tampak jelas bahwa bayangan realitas adalah terbentuk dari adanya cahaya yang menyinarinya. Realitas ataupun bayangannya sekali lagi tidak lebih sekedar dusta, tipuan dan sihir yang menghipnotis alam bawah sadar kita. (beng2, 2003)
Saya pikir tingkat kecerdasan seseorang bisa diukur berdasarkan ketajaman analisis dan kemampuan membaca realitas. Secara metodis, banyak sistematika yang jelas untuk memetakan kenyataan yang tampak dalam kasat mata. Mana realitas yang benar dan mana yang salah, mana yang nisbi dan mana yang hakiki. Tidak ada jaminan yang kelihatan itu semuanya benar adanya, secara analitik kebenaran yang sebenarnya adalah tidak sama dengan realitas atau kejadian yang sebenarnya.
Mustahil kalau tiap kejadian itu hanya proses kebetulan belaka, Artinya dalam tataran teknis belum dapat kita maknai itu adalah sebuah kenyataan yang benar, namun harus berdasarkan analisis dan data-data konkrit untuk hanya menemukan setidaknya kebenaran masa kini. Hal itu dapat dikualifikasi berdasarkan tingkat kedalaman analisis, tanpa analisis kita tidak tahu arti dari fenomena dan hanya terlihat kulitnya saja, yang jelas dibalik itu ada banyak tuhan-tuhan baru yang mencoba mengkonstruk situasi dan kondisi seperti yang diharapkan mereka. jadi harus kita bongkar permukaan realitas dengan kesadaran sepenuhnya dan bukan sekedar menikmati seonggok sampah tuhan-tuhan baru tersebut.
terbentuknya realitas empiris tidak pernah terlepas dari konstruk rekayasa hasil buah pikiran manusia, tanpa kita tahu kesadaran mayoritas telah dipermainkan dengan banyaknya metafora bahasa dan potret fatamorgana. Terlepas dari semua itu budaya ketergantungan sikap untuk segera merespon kondisi riil akan menjebak pikiran kita menuju pragmatisme nalar. Mau tidak mau perasaanpun akan terlibat dalam menarik sebuah kesimpulan yang kemudian menjadi dasar untuk menentukan keputusan. Kesalahan proses pemaknaan itu berimplikasi pada terjadinya konflik dan sebagai sumber munculnya fenomena sosial.
Setiap manusia pasti mempunyai asumsi-asumsi terkait dengan adanya suatu fenomena, namun parahnya secara mayoritas banyak yang terlalu tergesa-gesa untuk menilai fenomena tersebut sehingga muncul banyak persepsi salah dan kemudian menjadi budaya sekaligus ukuran kebenaran. Situasi seperti ini akan dimanfaatkan betul oleh mereka-mereka yang mempunyai legitimasi kuasa untuk menentukan kebijakan yang bersifat normatif, mekanis dan kausalistik yang dikemas dalam suatu yang praktis agar dapat dipersepsikan secara tekstual, tidak holistik dan kritis analitik.
Pengaruh paradigma positivis deterministik telah mendominasi sebagian besar kerangka berpikir masyarakat yang tentunya tanpa sedikitpun refleksi mereka telah merasa menemukan apa yang mereka cari, yaitu kesesatan. Kesempatan untuk mencari dinamika dan keteraturan hidup lebih ditekan oleh keinginan untuk menguasai yang bersifat eksploitatif. Akar dari kesalahpahaman terhadap persepsi kritis telah menjamur sehingga kenyataan berubah menjadi bayang-bayang yang tiap malam lenyap tiada bentuk. Pernah ketika seorang teman kita mengerang kesakitan dan selalu memegang perutnya, kita mengira dia mulas atau magh dan dokterpun mengatakan begitu namun sayangnya teman kita itu telah lama menahan sakit di kemaluannya sehingga perutnya tak kuasa menahan sakit yang begitu keras.
Analogi lain adalah tatkala gedung beserta kantor seorang pengusaha terbakar tanpa jelas penyebabnya yang dianggap kecelakaan oleh masyarakat dan juga polisi ternyata kebakaran tersebut memang telah disengaja oleh sang pengusaha karena kondisi usahanya terancam bangkrut yang dengan membakar gedungnya sendiri dia akan mendapatkan asuransi dan minimal dia akan mendapat ganti rugi lebih untuk menutupi kebangkrutannya. Sungguh mudah melakukan manipulasi pembohongan publik yang tidak terlalu anarkis tetapi mengerikan, dan parahnya dia tidak hanya menganggap hal itu baik, namun benar.
Sebagaimana posisi dosen yang seolah sok idealis dengan gayanya yang elitis, memaksa mahasiswa untuk mengakui kecerdasannya dan dengan kuasa posisinya dia mengharapkan wibawa, kemudian dia menikmati pujian dari sekelilingnya, padahal untuk menutupi kebodohannya dia mengajarkan wawasan yang sempit dan berbelit-belit untuk berusaha membingungkan mahasiswa, tanpa penuh resiko dia membebani banyak tugas-tugas konyol tanpa pertimbangan profesional sehingga tampak usahanya untuk mencerdaskan menjadi penjebak karakter ke arah ketololan mahasiswa, imbas dari hal tersebut adalah terbentuknya sarjana mekanik, mandul intelektual, dan tidak produktif. Dosa besar bagi mereka, sang dosen pengecut, kalau seandainya aktor-aktor yang bermain dalam tataran akademik tersebut berperan sebagai pembawa doktrin “aneh” yang memberikan karakter tunduk dan patuh, bukan kesempatan untuk kreatif dan mandiri.
Dengan adanya kenyataan-kenyataan semu, tidak tampak sebuah titik singgung atau lebih tepatnya keselarasan antara kejadian yang tampak dengan kenyataan yang sebenarnya. Sebenarnya tidak semua realitas tersembunyi dari maknanya, namun sudah begitu banyak metodologi untuk menganalisis fenomena yang terjadi. Bahasa sebagai pengantar eksplisit telah banyak berperan dalam menampakkan bentuk realitas, biasanya bahasalah yang benar-benar menjadi alat untuk mendefinisikan, namun tidak untuk memaknai. Peran bahasa menjadi kabur oleh imajinasi intelektual dan inilah senjata ampuh untuk membiaskan substansi.
Bahasa layaknya sinar matahari yang menjadikan fatamorgana dan sebaliknya bahasa bukan sebagai prisma yang mampu menerjemahkan cahaya putih matahari menjadi warna-warni pelangi. Apakah masih layak bahasa dijadikan satu-satunya alat untuk memberikan makna, saya pikir ini adalah bentuk paradoks yang harus segera dibongkar, makna adalah abstrak sementara bahasa adalah pereduksi. Posisi bahasa lebih tepat saya artikan sebagai alat kuasa, berperan secara simbolik dan penuh keberpihakan.
Berdasarkan realitas, seseorang melakukan bentuk penilaian-penilaian subjektif dan tentunya secara metodologis akan berabstraksi dengan teori-teori yang sesuai, dari hasil penalaran subjektif tersebut abstraksi semakin jauh dari realitas dan berimplikasi pada disfungsinya konsep terhadap fenomena yang ada, akhirnya teori-teori tinggallah kalimat tak berharga dan jatuh dari kebermaknaan.
